Silaturahmi EMCL dengan Masyarakat

Silaturahmi EMCL dengan Masyarakat Sekitar Block Cepu

“Barang siapa yang mau bersilaturohim maka dia akan dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizkinya……..”

Demikian sekelumit sambutan dari Bapak Rifqi Romadhon perwakilan Exxonmobil Cepu Limited pada acara Kampanye Kesehatan Program Sanitasi masyarakat TA. 2017/2018 kerjasama LSM Gemati Bojonegoro yang didukung penuh oleh Exxonmobil Cepu.
Acara yang dikemas dengan kegiatan Jamaah Tahlil ibu-ibu Dusun Joho Desa Brabowan Kecamatan Gayam itu bertempat di rumah ibu Sripah yang dimulai tepat pukul 18.00 WIB setelah solat maghrib.
Beliau juga mengucapkan banyak terimakasih karena sudah di berikan kesempatan untuk dapat berkumpul bareng dengan warga dan menjelaskan terkait program-program kemasyarakatan Exxonmobil Cepu Limited untuk masyarakat sekitar.

Walaupun dalam situasi gerimis tidak mengurangi niat para anggota jamaah tahlil yang ingin mendapatkan tambahan ilmu dan wawasan kesehatan.
Acara semakin menarik dengan hadirnya Bapak Ngadenan selaku Sekcam Gayam.

Kekompakan antar warga dapat membantu suksesnya suatu progam, dengan tahlilan selain bisa mendoakan kerabat yang sudah meninggal juga membantu terciptanya kerukunan antar warga, demikian sambutan Bapak Ngadenan selaku sekcam Gayam.
Beliau sangat mengapresiasikan kegiatan ibu-ibu Desa Brabowan khususnya Dusun Joho.

Bapak Bambang selaku perwakilan dari Puskesmas Gayam sekaligus Narasumber acara malam ini memaparkan tentang 5 cara hidup bersih dan sehat, diantaranya adalah harus selalu cuci tangan pakai sabun, gunakan air bersih yang bebas dari kuman dan bakteri, buang air besar di wc jangan di sembarang tempat, makanan siap harus langsung dimakan jangan disimpan terlalu lama, buang sampah di tempatnya jangan di sembarang tempat.

Para ibu-ibu sangat antusias memperhatikan materi yang di sampaikan, hal ini terlihat dalam sesi tanya jawab yang diberikan hadiah souvenir, sesudah penyampaian materi kesehatan.
Kapan waktu yang tepat untuk melakukan cuci tangan ?
Dengan cepat dan tepat ibu Ida sudah dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Bagaimana cara merawat jamban yang baik, ibu Robiah pun langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas dan tepat.
Dan pertanyaan yang lain terkait kesehatan dan program kemasyarakatan Exxon Mobil Cepu Limited.

Pada kesempatan ini Ketua Jamaah tahlil ibu Rukmini sangat berterima kasih dengan adanya penyuluhan pada malam ini, karena dengan adanya penyuluhan kesehatan yang intensif para warga jadi teringat kembali akan pentingnya berprilaku hidup sehat.

Testimoni terhadap para audience ini bertujuan untuk mengukur seberapa daya tangkap masyarakat terhadap materi kesehatan dan Program Kemasyarakatan EMCL yang telah diberikan yang kemudian akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan disampaikan kepada masyarakat luas, sehingga bisa mendukung program Pemerintah Bojonegoro “GERAKAN BOJONEGORO SEHAT DAN CERDAS” cepat tercapai.

Advertisements

Kemiskinan dan Keberadaan Migas Bojonegoro : Apa Hubungannya?

Oleh : Kang Yoto

KEMISKINAN dan migas di Bojonegoro, dua-duanya benar. Kemiskinan sudah lama ada dan migas baru mulai puncak produksi, pendapatan migas belum sepenuhnya diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Jadi bagaimana dengan pertanyaan, mengapa daerah penghasil migas rakyatnya masih banyak yang miskin? Lalu ditambahi: “Kita harus malu, prihatin dengan keadaan ini”.
Jika pertanyaan ini dimaksudkan untuk menyalahkan keadaan, tepatnya program pembangunan Bojonegoro, maka perlu diperjelas duduk masalahnya. Namun, bila pertanyaan itu dimaksudkan untuk refleksi: belajar hidup bersama, menemukan cara menciptakan kesejahtaraan lebih baik. Maka, semangat seperti ini sangat penting.
Untuk keperluan penjelasan hubungan antara kemiskinan dan industri migas dengan semangat refleksi perlu dipahami hal-hal sebagai berikut. Pertama, kemiskinan di Bojonegoro sudah ada jauh sebelum migas ditemukan, dieksplorasi dan dieksploitasi. Kemiskinan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), itu dua hal yang saling terkait dan sama sama ada di Bojonegoro. Jauh sebelum era migas, Dr. C.L.M Penders menyebut sejak era penjajahan Belanda, Bojonegoro telah menjadi salah satu dari dua daerah termiskin di Jawa. Jika menggunakan rumus Badan Pusat Statistik (BPS), setiap orang yang mengaku petani dengan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar (Ha) termasuk miskin, maka hampir semua petani Bojonegoro berarti hidup dalam kemiskinan, karena mayoritas kepemilikan lahannya kurang dari 0,5 Ha. Belum lagi bila dikaitkan dengan pendapatan yang diciptakan dari lahan tersebut, akibat lahan kering, banjir dan kesalahan produksi;
Kedua, usaha untuk mengurangi kemiskinan sudah dilakukan sejak zaman Belanda, yang intinya bagaimana membuat orang Bojonegoro punya pendapatan, lebih sehat dan terampil. Pembangunan Waduk Pacal zaman Belanda, intensifikasi pertanian sejak era Orde Baru, penataan irigasi, pembangunan embung, jalan pedesaan, industri masuk desa, penggiatan wisata, pengenalan komoditas baru bidang pertanian seperti bawang, jambu, melon dan holtikultura, serta pengembangan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) bidang peternakan yang sedang dikerjakan belakangan ini adalah di antara usaha nyata yang arahnya untuk peningkatan pendapatan. Beasiswa dua juta, kesehatan gratis bagi yang tidak mampu, pelatihan tenaga kerja dan insentif investasi di pedesaan, semua ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan dan daya saing Bojonegoro dalam bidang ekonomi. Namun, semua upaya ini belum mampu menuntaskan pengurangan kemiskinan. Masih harus diperluas skala dan jangkauan kewilayahanya.
Ketiga, Lalu bagaimanakah dengan sumbangan Migas? Sumbangan migas yang diharapkan dari sisi tenaga kerja, hanya terjadi pada masa konstruksi yang waktunya sekitar tiga tahun dengan jumlah lima ribuan tenaga kerja. Selanjutnya, diharapkan dari pengolahan seperti adanya mini refinery (kilang mini). Dari konstruksi, eksploitasi dan industri dalam jumlah terbatas dapat melahirkan kesempatan perdagangan, jasa dan wisata. Namun jumlah tenaga kerja yang tersedia tentu saja masih sedikit dibandingkan dengan angkatan kerja Bojonegoro.
Keempat, berkah hadirnya migas diharapkan menghasilkan pendapatan. Sejauh ini telah diperoleh pendapatan Rp 37 miliar pada tahun 2009, Rp 169 miliar di tahun 2010, Rp 219 miliar di tahun 2011, Rp 456 miliar di tahun 2012, Rp 421 miliar pada tahun 2013, Rp 627 miliar pada 2014, Rp 660 miliar pada tahun 2015, dan Rp 642 miliar pada 2016. Jumlah inilah yang penggunaannya difokuskan pada pengembangan SDM, infrastruktur yang relevan pada pertumbuhan ekonomi dan pembentukan modal publik, termasuk rencana dana abadi untuk beasiswa abadi. Buat Bojonegoro jumlah ini sudah lumayan, namun belum seberapa dibanding dengan tantangan yang harus diselesaikan.
Mengapa pendapatan migasnya baru sedikit ? Ini karena saat harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) 2011-2012-2013 lifting baru mencapai 22 juta barel atau setara 61 ribu barel per hari. Namun saat lifting naik 2015 sebanyak 31 juta barel atau setara 86 ribu barel per hari (BPH) bahkan 2016 sudah mencapai 68 juta barel atau setara 188 ribu bph, harga minyak turun bahkan dibawah 30 USD per barel. Pendapatan migas ini kadang melahirkan harapan yang tinggi namun dalam kenyataannya kadang jauh dari yang diharapkan. Baru-baru ini pemerintah pusat menyatakan ada kelebihan salur masing-masing tahun 2014 ada lebih salur Rp 167 miliar, dan 2015 lebih salur Rp 550 miliar yang harus dipotong mulai 2016 sampai 2018. Situasi ini mengharuskan Pemkab Bojonegoro harus pintar-pintar mengelola belanjanya secara tepat, termasuk saat kemungkinan ada lonjakan dana pendapatan.
Jadi kiranya sudah jelas bahwa kehadiran migas itu tidak akan otomatis menyebabkan hilangnya kemiskinan di Bojonegoro dalam sekejap. Kemiskinan Bojonegoro sebenarnya sudah berkurang, dimulai dari 28,38 persen (2006); 26,37 persen (2007); 23,87 persen (2008); 21,27 persen (2009); 18,78 persen (2010); 17,47 persen (2011); 16,60 persen (2012); 15,96 persen (2013); 15,48 persen (2014) dan 15,71 persen (2015). Penurunan ini dimungkinkan salah satunya karena kontribusi sektor migas baik langsung maupun lewat penggunaan anggaran pendapatan yang tepat.
Di beberapa daerah yang salah mengelola industri ekstraktif, termasuk migas, kehadirannya bahkan hanya merusak lingkungan, memperparah tingkat korupsi, mental pesta dan konflik sosial, akibatnya tingkat kemiskinan di daerah tersebut tidak berkurang. Situasi inilah yang disebut dengan kutukan sumber daya alam atau tepatnya kutukan salah kelola sumberdaya alam.
Mari kita berlomba lomba membuat terobosan agar rakyat semakin, sehat, cerdas, trampil, produktif yang mampu menciptakan pendapatannya hingga punya peluang hidup lebih bahagia.
Kelak sejarah akan mencatat bahwa tidak ada kabupaten miskin, yang hanyalah ada kabupaten yang salah urus.
Penulis adalah Bupati Bojonegoro