ExxonMobil Mengajak masyarakat Gayam untuk Peduli pada Sanitasi

Pada hari Rabu tangal 15 November 2017 laksanakan sosialisasi program Sanitasi Masyarakat di balai desa Gayam, Kecamatan Gayam, dengan mengandeng LSM Gemati, LSM Lokal di Bojonegoro Acara ini di hadiri oleh Perwakilan dari UPT Puskesman Gayam Bapak dr. Nasich serta dari Kecamatan Gayam di hadiri Bapak Ngadenan serta para calon pemanfaat dari 5 Desa yang menjadi Target Program Desa Gayam, Mojodelik, Bonorejo, Brabowan, Begadon. Serta dihadiri oleh bapak Rifqi Rhomadhon dari perwakilan Managemen EMCL
Pada kesempatan ini Bpk Kades Gayam sangat menyambut baik program ini menekankan bahwa dalam pembangunan jamban harus dapat meningkatkan kesehatan masyarakat di desa Gayam karena masih ada masyarakat desa gayam yang buang Hajat di sungai dan tegalan, hal senada juga di sampaikan oleh Bapak Sekcam Gayam “Ngadenan” Bahwa program sanitasi ini harus bisa mendukung program kecamatan Gayam Bebas OD, karena status Kecamatan Gayam saat ini adalah Kecamatan ODF, memang Jumlah rumah tangga di kecamatan Gayam ini terus berkembang ini yang mengakibatkan masalah sanitasi ini juga akan terus berkembang .
Pada kesempatan yang sama Bapak dr. Niswah dari UPT Puskesmas Gayam juga menghimbau pada seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan, karena pada dasarnya kesehatan harus dijaga dan dimulai dari diri kita masing masing. Dan ini sudah menjadi program nasional “Indonesia Sehat”
Pada kesempatan yang sama Bapak Rifky Romadhon juga menyatakan bahwa EMCL punya komitmen untuk menjadi tetangga yang baik, bentuknya akan selalu berada ditengah-tengah masyarakat untuk membantu masyarakat yang menjadi tetangganya dalam bentuk program-program kemasyarakatan termasuk membantu program sanitasi masyarakat lima desa di kecamatan gayam ini

Advertisements
Quote

Bojonegoro di Persimpangan Jalan

IMG_20160108_150528Kabupaten Bojonegoro berada di wilayah Propinsi Jawa Timur. Namun pada masa kolonial Belanda, Bojonegoro berada di wilayah Jawa Tengah. Pada tahun 1900 wilayah Bojonegoro merupakkan bagian dari Residensi Rembang, pada 1 juli 1928 Bojonegoro dipisahkan dari Residensi Rembang, dan menjadi Residensi tersendiri dengan nama Residensi Bojonegoro, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban. Itulah sedikit tentang latarbelakang keberadaan kabupaten Bojonegoro,

Yang menjadi penyakit dari daerah berkebang menurut Hermawan kertajaya dalam Bukunya Siasat Bisnis Menang dan bertahan diabad Asia Pasifik adalah 1. Teknologi yang tertingal, 2. Sumberdaya Alam yang tak terkelola 3, Sumberdaya manusia yang kurang terdidik, 4 adalah birokrasi dan pemerintahan, dalam poin ini bojonegoro sudah mempunyai 2 modal yang cukup baik, yaitu Sumber daya alam yang melimpah baik tambang mineral dan Migas, serta sumberdaya alam yang berupa hutan jati dan tanaman lainya, seperti yang telah kita ketahui bahwa Bojonegoro dengan Block Cepu nya menyimpan cadangan minyak dan gas sebesar 25 % dari cadangan nasional, Wilayah Bojonegoro 40 % nya adalah kawasan hutan serta di lewati sungai terpanjang di Pula Jawa yaitu bengawan solo, untuk birokrasi pemerintah bojonegoro memiliki banyak trobosan, dengan berbagai trobosan yang telah di gulirkan tersebut diharapkan bisa menjadi stimulus bagi dunia usaha, untuk teknologi orang bojonegoro ini sangat cepat menerima transfer teknologi dan tantangannya adalah Jumlah penduduk yang rata-rata pekerjaanya bertani dan tinggal di daerah terpencil, dengan akses jalan yang jelek ini menjadikan Bojonegoro tahun masuk menjadi daerah no 9 termiskin ditambah lagi SDM yang rendah, meskipun begitu bojonegoro begitu Bojonegoro menjadi salah satu kota degan pertumbuhan paling baik di jawa timur yaitu 14,5% dan itu tertinggi di Jawa Timur, ini merupakan pencapaian bojonegoro yang luar biasa, dan tiga tahun terakhir ini laju pertumbuhan bojonegoro banyak di topang oleh industri migas. Pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bojonegoro telah mengalami peningkatan signifikan. Hal ini dilihat dari pendapatan migas tahun 2014 mencapai 5,86%, sementara inflasi relatif tinggi dengan capaian 7,34%, Sementara untuk nilai tukar petani (NTP) mengalami penurunan sebesar 103,93%. Sedangkan untuk indeks pembangunan manusia (IPM) sebesar 68,50% atau meningkat 0,44%.“Untuk jumlah pengangguran terbuka juga mengalami penurunan sebesar 3,21% dan angka kemiskinan yang menurun sebesar 14,75%,” (http://infopublik.id/read/110341/pertumbuhan-ekonomi-bojonegoro-meningkat.html)