Ketika Cinta Memanggil, ayat ayatnya dalam pusaran kekuasaan

Seluruh rakyat Bojonegoro yang tercinta
Bapak, Ibu, Saudara, adik adik dan anak anaku

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuhu
Salom, salam damai di hati
Om swasti astu

Semoga semua selalu bahagia dan membaca surat saya ini dengan bahagia pula.
Saudaraku, adik dan anak anakku tercinta. Perjumpaan diantara kita telah membentuk sejarah kita masing masing. Begitu juga perjumpaan dan bergaulan bu Yoto selama ini dengan semua warga Bojonegeoro.
Mungkin tidak akan ada kisah yang akan saya tuturkan dalam surat ini bila tahun 1986 saya menolak lamaran cinta kang yoto. Pemuda ndeso yang rambutmya gondrong, sepatunya robek, baju atas bawahnya tidak permah serasi, kerempeng tiba tiba menulis pesan pada potongan kertas kecil kepada saya saat kuliah berlangsung. “jika kita berjalan di lorong yang sama dan di ujungnya ada rumah mungil yang kebetulan kuncinya saya bawa, maukah engkau masuk ke rumah itu bersama saya”. Kang yoto memberi waktu tiga hari untuk menjawabnya sambil mengatakan: “sahabat ditambah cinta namanya kekasih, jika kekasih dihilangkan cintanya maka tetap sahabat. Kang yoto hanya ingin menyakinkan saya agar saya tidak ewuh pakewuh kalau mau menolak cintanya. Di hari ketiga saat saya hendak menjawab tantangannya, kang yoto mengatakan: “jangan engkau jawab ya atau tidak sebelum engkau tahu apa bahagia menurut saya. Saya akan bahagia bila dapat membahagiakan orang lain”. Singkat cerita saya mengatakan ya atas tantangan kang yoto untuk berjalan di lorong yang sama dan punya rumah mungil tempat singgah. Saya akhirnya jatuh cinta kepada kang yoto, keluarga kang yoto di kampung jauh lebih miskin bila dibandingkan dengan orang tua saya. Tapi saya kagum dengan cita cita, semangat hidup, kegigihan dan kerja kerasnya. Bagi saya semangat itu jauh lebih mahal dibanding dengan harta. Kami menikah saat masih kuliah semester7.
Saya belum pernah berkunjung ke rumah mertua di Bakung Kanor Bojonegoro. Kang yoto hanya menggambarkan rumahnya yang berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, kalau malam gelap tanpa listrik, tidak punya wc, ada hamparan sawah luas di belakang rumah dan musholla di samping rumah. Bapak tukang kayu dan ibu buta hurup yang sehari hari di rumah dan musholla. Saya masih ingat saat saya dijemput kang yoto di medalem dengan sepeda motor pinjaman milik mas ten. Melalui jalan berbatu, lalu tanah liat yang licin, sebagian lainnya berlumpur. Saya berteriak teriak memegang erat perut kang yoto menyusuri jalan. Kang yoto lincah sekali mengendarai sepeda motornya, tak takut terjatuh dan terus melaju. Sampai di depan rumah, mbok, bapak, kakak, adik dan tetangga berteriak..oh bojone To teko. Ayo podo rene. Ayu tibae” begitulah komentar mereka. Saya tersipu sipu bahagia. Tapi bukan pujian itu yang membuat saya bangga. Saya bangga berada di tengah keluarga sederhana, punya harga diri dan hubungan saling menyayangi yang kuat sekali. Inilah yang membuat saya betah bahagia belajar hidup dalam situasi yang serba minus. Hari dan tahun berlalu cinta telah membawaku dalam lorong kasih sayang keluarga sejati. Bersama anak anak dan kang yoto kami rutin berkunjung ke Bakung.

Sungguh tidak terbayang di tahun 2007 jika akhirnya saya bukan hanya berkunjung ke rumah ibu mertua. Saya harus ikut menyusuri lorong lorong lain seluruh sudut Bojonegoro. Saya memilih tidak hanya berdoa di tengah malam untuk kesehatan dan keselamatan kang yoto dalam berkampanye. Saat itu anak terbesar sudah masuk SMA, kedua SMP dan terakhir kelas 6 SD, mereka sudah mulai mandiri. Mereka mengijinkan saya membantu ayahnya. Mereka bukan hanya suami tapi juga kawan belajar yang luat biasa. Bahkan anak anak dan kang yoto memberi kesempatan saya kuliah mengambil kuliah S2 dan S3.
Sepanjang membantu kampanye itulah saya mengenal kehidupan rakyat Bojonegoro. Dari kang yoto saya belajar apa saja pengebab kemiskinan, infrastruktur jalan dan pengairan rusak. Saya belajar sejarah sosial, ekonomi dan politik Bojonegoro. Kang yoto juga menjelaskan pilihan pilihan kebijakan yang harus ditempuh, bagaimana men jadikan pemerintahan solusi atas masalah rakyat. Saya masih ingat saat kang yoto menjelaskan pentingnya mengambil kebijakan anggaran terkonsentrasi hanya untuk pembangunan jalan, pengairan, pendidikan dan kesahatan. Cara ini selain akan langsung terasa dampaknya juga dapat memenuhi rasa keadilan. Semua orang apapun agama dan alirannya terlayani sebagai warga Bojonegoro. Kang yoto menyebut dirinya sebagai sopir bus umum.
Malam menjelang pilihan tanggal 9 Desember 2007 kami kembali ke Gresik menjenguk anak anak. Sepanjang jalan saya gelisah, esuk adalah hari penentuan: apakah cinta kami mendapatkan sambutan rakyat Bojonegoro? Saya teringat lirik lagu sebelum cahaya Letto…kuteringat hati yang bertabur mimpi…kemanapun pergi cinta… juga lagu lagu Republik: hanya ingin kau tau. Woow woow aku, hanya ingin kau tahu besarnnya cintaku…tingginya hayalku bersamamu. Lagu ini seolah mewakili suara hati kami. Semakin jauh kami mengenal kehidupan rakyat Bojonegoro semakin besar hansrat kami untuk saling membantu. Kami tidak takut kalah dalam pilkada 2007 tapi kami sangat risau akan kehilangan kesempatan membantu rakyat lewat kekuasaan: Bupati. Saya sudah membayangkan keliling menyapa, mendengar dan saling belajar hidup lebih baik lewat kegiatan PKK dan peran apapun yang dimungkinkan sebagi istri Bupati. Kang Yoto memagang erat tanganku, sambil meneteskan air mata, ia bisikkan doa di telingaku: “Ya Allah dengarkankah tekad kami, kirimlah cinta tulus kami kepada seluruh rakyat Bojonegoro. Sayangilah mereka, lindungilah mereka. Bimbinglah kami untuk menemukan jalan terbaik bagi masa depan bersama. Jika rakyat mempercayai kami, maka janganlah Engkau biarkan kami kelak tersesat dengan ego dan kesombongan yang menjauhkan kami dari rakyat. Jika rakyat belum memilih kami, terimalah apa yang kami dan mereka lakukan selama perjuangan politik sebagai ibadah kami. Jangan engkau padamkan cinta kami kepada mereka!” Saya mengamini doa kang yoto dengan linangan air mata. Saya genggam erat tangannya, lalu aku cium dalam dalam.
Hari hari sejak dilantik untuk pereode pertama dan kedua kami jalani, kang yoto tenggelan dengan kesibukannya, demikian juga saya. Kami berusaha menjalankan semua hal yang telah kami angankan saat kampanye. Banyak hal baru yang terus kami pelajari selama bertemu rakyat dan birokrat. Menjelang tidur dan pagi hari kang yoto dan saya sering berdiskusi tentang berbagai hal. Kami selalu berusaha membuka hati dan pikiran terhadap semua kemungkinan terbaik untuk solusi atas masalah yang kami temukan. Hidup ini hanyalah rangkaian masalah, terima, hadapi dan jalani dengan antusias. Hidup ini sulit tapi jangan pernah berkelit, hidup ini susah tapi jangan pernah berkeluh kesah. Ibarat dalam gelap, lebih baik menyalakan satu lilin daripada menyalahkan kegelapan. Begitulah kalimat kalimat yang sering kami ucapkan bersama untuk saling menguatkan. Sekali lagi cinta telah membawa kami benar benar dalam lorong panjang perjalanan bersama rakyat Bojonegoro.
Tanpa terasa 10 tahun hampir berlalu, kami senang saat 2016 BPS mengumumkan angka kemiskinan Bojonegoro turun. Tahun 2000 Bojonegoro kabupaten termiskin di Jatim, tahun 2008 nomor 3 termiskin, sekarang bergeser ke nomor 11. Alias keluar dari sebutan 10 kabupaten termiskin di Jatim. Namin kami sangat menyadari jalan panjang mendaki masih harus ditempuh Bojonegoro agar kelak rakyatnya bisa termasuk 10 kabupaten dengan jumlah terkecil kemiskinannya. Sepanjang yang saya pahami ada berapa kebijakan dan program yang harus diteruskan dengan perbaikan yang diperlukan. Program jaminan kesehatan bagi yang kurang mampu, penuntasan ODF, beasiswa bagi anak sekolah SLTA dan mahasiswa bagi yang kurang mampu, dan beasiswa vocasional harus diteruskan. Dana abadi untuk kelanjutan program beasiswa harus diperjuangkan bersama sampai terwujud. Industri migas harus terus dikawal demi pembangunan seluruh rakyat Bojonegoro. Pabrik masuk desa yang dapat memberi pekerjaan harus terus diwujudkan. Karena itu pembangunan jalan, jembatan dan sarana pertanian harus diteruskan. Begitu juga keterbukaan pemerintah dan dialog publik bagi seluruh rakyat. Budaya rakyat Bojonegoro yang saling menghormati antara agama, ras, suku dan aliran harus terus dimantapkan. Semua program ini sudah matooh, harus dilanjutkan.
Bahkan demi mengantisipasi anak anak muda trampil Bojonegoro harus serius menfasilitasi lahirnya industri keatif, pariwisata dan sektor jasa di bidang kesehatan, pendidikan dan keuangan. Sama sama mengeluarkan biaya, saya membayangkan kelak pembangunan gedung, jalan, jembatan dibangun dengan arsitektur yang indah. Sehingga menopang wisata yang mulai marak. Menurut istilah pak Kuswiyanto: Bojonegoro harus joss Matoh, atau lebih baik.
Semua angan tentang masa depan rakyat Bojonegoro yang joss matooh inilah yang terus meyakinkan diri saya saat akhir Desember 2017 tiba tiba ada suara yang meminta maju menjadi Calon Bupati pereode 2018 -2023. Terlebih saat Pak Kuswiyanto yang semula hendak menjadi calon Bupati bersedia mendampingi. Saya kenal Pak Kus mantan kepala sekolah yang sukses mengubah sekolah biasa menjadi luar biasa di Surabaya, punya pengalaman politik di partai dan legislatif: DPRD Jatim dan DPR RI. Istrinya guru yang berhati mulia.
Sejujurnya Saya dan Kang yoto sebenarnya telah lebih dahulu merencanakan aktif menjadi dosen. Bahkan status kami sebagai dosen sudah aktif. Kang yoto sudah menyelesaikan doktornya, alhamdulillah proposal doktor saya di UPSI Malasyia sudah lulus kelayakan. Namun Rencana kembali ke kampus harus saya tunda. Saya memenuhi panggilan cinta, ikut menawarkan diri dalam pesta demokrasi Bojonegoro. Jika kelak saudaraku memberikan kepercayaan kepada pasangan kami (MK, pasangan nomkr 2), Kami akan berusaha keras menjadikan Pemkab Bojonegoro hadir sebagai bagian dari solusi atas masalah yang saudaraku hadapi bersama. Angan angan jika hanya ada dalam pikiran bisa jadi hanyalah mimpi. Tapi kalau diangankan bersama, diorganisir dengan baik, terus dipelajari dan dilaksanakan pilihan terbaiknya, maka kemanfaat untuk sesama akan menjadi nyata. Sebagai manusia saya sadar, apa yang telah dan akan saya lakukan terhadap rakyat Bojonegoro masih sangat jauh dari sempurna. Namun kami yakin semangat cinta dalam jiwa akan menyempurnakan kekurangannya. Saya percaya dengan mempertemukan niat baik, keterbukaan hati dan pikiran maka kerjasama atau gotong royong seperti yang dipesankan Bung Karno akan dapat diwujudkan. Agama Islam mengajarkan: “bertolong menolonglah dengan siapapun tanpa pandang bulu untuk kebaikan bersama”.
Saya memahami bahwa jalan politik itu tidak mudah. Tapi saya yakin ketulusan cinta pada sesama akan membuat diri kami menjadi lautan, lem perekat, bumi dan matahari yang selalu memberi harapan bagi sesama. Kami percaya cinta itu menguatkan. Bila saudaraku menyambut tawaran cinta ini mari bersama menebarkan benihnya ke semua warga Bojonegoro. Jika masih ada yang belum menerima, jangan benci mereka, tetap berikanlah cinta. Bila dapat mencintai kenapa harus membenci. Satu cinta: Bojonegoro.
Semoga Tuhan, Allah meridhoi langkah kita semua.

Bojonegoro 15 Februari 2018
Salam satu cinta
#trullylovebojonegoro

Mahfudhoh Suyoto

Advertisements