​DUA JAM  BERSAMA “BUPATI YANTO”


Bojonegoro, Selasa 25 Oktober 201

Suasana rapat persiapan Festival HAM 2016 Bojonegoro di “Productive Room”  lantai 7 gedung baru Pemkab Bojonegoro, mendadak riuh dan penuh gelak tawa ketika tiba-tiba Kang Yoto berkata: “…Pada jam ini, saya melantik saudara Yanto menjadi Bupati sampai sore,.. silahkan Bapak Bupati Yanto memimpin rapat dan ajudan saya akan menjadi ajudan pak Yanto. Mohon Bapak Yanto dipersilahkan duduk di kursi pimpinan rapat,” Menanggapi hal itu, sambil menggaruk-garuk kepala dan dengan wajah kebingungan, Pak Yanto berusaha menolak daulat Kang Yoto. Namun, karena Kang Yoto tetap tidak bergeming, akhirnya rapat pun berjalan dengan dipimpin  oleh “Bupati Yanto”.

Walau pada awalnya para peserta yang terdiri dari para asisten, staf ahli, kepala badan, kepala dinas dan wakil-wakil SKPD itu terkesan canggung, namun, lama-kelamaan proses rapat berjalan dengan lancar. Kepolosan “Bupati Yanto” yang seringkali memancing gelak tawa dari para peserta rapat, menjadikan suasana rapat terasa lebih segar, rilek namun tetap produktif.

Rapat dua jam bersama “Bupati Yanto” siang itu sunguh merupakan “hadiah” pembelajaran yang mencerahkan. Dengan mendaulat Pak Yanto sebagai Bupati, Kang Yoto telah menawarkan cara baru dalam memaknai “atribut dan jabatan Bupati”. Dengan meminjam kepolosan “Bupati Yanto” saat memimpin rapat, Kang Yoto berhasil membuat seluruh peserta rapat “menertawakan” atribut atau jabatan Bupati. Pada sisi ini, Kang Yoto seakan hendak mengatakan kepada kita, bahwa “jabatan bupati” bukanlah sesuatu yang sakral dan terbebas dari kemungkinan “ditertawakan” oleh rakyat dan nuraninya sendiri. Apalagi jika penyandang atribut-jabatan bupati hanya demi memuaskan rasa lapar untuk memenuhi ambisi pribadi dan tidak memiliki niat atau hati untuk melayani.   

Pencerahan lain juga dipancarkan oleh “Bupati Yanto”, yang dengan lugasnya berkali-kali mengajukan pengunduran diri sebagai bupati. Sosok “Bupati Yanto” ini mengajarkan bahwa penunjukan dan pelantikan menjadi seorang “pejabat”, bukanlah capaian yang menjadikan diri sombong dan takabur. Sebaliknya, penunjukan-pelantikan dirinya justru menjadi pintu masuk untuk mengenali “siapakah dirinya”.  Penunjukan dan pelantikan dirinya sebagai pejabat, tidak menjadikannya “lupa diri” dan “takabur”.  “Bupati Yanto” mengajarkan bahwa “jabatan” tidak akan menghilangkan kesejatian dirinya. Jabatan tidak menjadikan dirinya “berpura-pura” seolah-olah dirinya mampu dan untuk itu tega mengorbankan “anak buah” demi menunjukkan bahwa dirinya adalah “pejabat”.  

Dari peristiwa ini juga, Kang Yoto menunjukkan secara gamblang betapa loyalitas birokrasi akan sangat cepat berubah seiring dengan  siapa yang memiliki “atribut-jabatan Bupati”. Dalam hitungan menit, Pak Yanto yang sebelumnya adalah seorang tukang sablon, dan ketika mendapat atribut-jabatan sebagai “Bupati”, tak ada satu pun partisipan yang memiliki ketegaran hati untuk mengenali siapakah dirinya, visi, intensi, nilai dan kompetensinya. Hanya karena Pak Yanto “didudukan di kursi Bupati”,  semuanya kehilangan nyali untuk mengenali siapakah sosok ini. Semuanya mengamini apa yang dikatakan dan dilakukan tanpa menilik substansi. Apa yang terjadi dalam forum ini kiranya cukup merefleksikan bagaimana wajah birokrasi pemerintahan kita. 

Dua jam bersama “Bupati Yanto” merupakan cermin untuk memantulkan kembali bagaimana cara kita memaknakan “atribut dan jabatan” yang melekat dalam diri. Dalam dua jam ini juga, kita diajak untuk mempertanyakan ulang, apakah atribut-jabatan itu sebagai tujuan atau hanya sarana. Dan jawabnya ada pada diri kita masing-masing. 

#Sahal Firdaus – Grahatma Semesta