Quote

SOLUSI JARINGAN DI DAERAH TERPENCIL

PENGAMATAN DI DESA KLINO KECAMATAN SEKAR KABUPATEN BOJONEGROO

DSC_0756Pegembangkan perangkat lunak berbasi Open Source di tambah dengan perangkat keras Base Transceiver Station (BTS), atau yang di kenal dengan istilah Open BTS dalam penggunanya sangat dimungkinkan digunakan di wilayah-wilayah yang secara ekonomi tidak menguntungkan secara ekonomis untuk operatos kemersial

Berbeda dengan BTS komersial milik operator seluler, Open BTS ini bisa diganakan untuk telepon seluler dapat menelepon dan mengirim pesan pendek secara gratis, atau sesuai dengan kesepakan bersama dengan masyarakat setempat (komunitas) ini solusi untuk masalah jaringan di daerah terpencil dan belum terjangkau oleh BTS-BTS komersial, karena operator seluler tidak akan mau membangun BTS di daerah terpencil mengingat investasinya yang besar, untuk satu BTS, butuh biaya sampai 3 miliar, Karenanya masyarakat di desa Klino Kecamatan. Sekar Kabupaten Bojonegoro ponselnya digunakan untuk mendengarkan music, sesekali digunakan sebagai mana mestinya (untuk telp dan SMS) Karena disana tidak ada sinyal, kalaupun ada siyal itu di tempat-tempat tertentu ini juga saya alami ketika kami bersama kawan-kawan berkunjung ke Desa Klino, bahkan ada celetukan dari kawan-kawan di “Gilani gak ada siyal, mau telp gak bisa, sms gak bisa, waduh kita masuk ke wilayah miskin siyal jadi kita patut bersukur hidup di daerah yang berlimpah sinyal, makanya pulsanya isi ya, cletukan mas Tata Budiman salah satu kawan RTIK waktu kita mengadakan Gatering desa tersebut.

Implementasi OpenBTS cocok digunakan di daerah terpencil karena OpenBTS ini akan membangun jaringan sendiri dan mandiri, tanpa tergantung ada tidaknya jaringan lain seperti jaringan internet atau satelit. Selain itu, OpnBTS menjanjikan komunikasi dengan biaya yang jauh lebih murah dibanding menggunakan jaringan operator telepon seluler, bahkan bisa gratis. ini adalah gambaran bahwa untuk mendirikan openBTS tidak butuh biaya mahal dalam kisaran Rp. 150 jt dari pada BTS komersial yang dapat menghabiskan biaya sampai Rp. 3 M. Begitupun biaya berkomunikasi, bisa lebih ditekan karena berbasis pada VOIP (Voice Over Internet Protocol), yang menjadi problem sekarang adalah ijin penggunaan OpenBTS sampai saat ini belum ada regulasi yang mengaturnya, jadinya kita berharap teknologi openBTS ini pada pemerintahan mendatang dapat dibuat peraturanya, sehingga legalitas jelas dan aman.