Pilihanku 9 April 2014

Negaraku Indonesia akan memilih 500 putra-putri terbaik bangsa untuk menerima mandat dari 200 juta lebih rakyat indonesia, 500 orang tersebut akan mewakiliku di senayan. (DPR)

Saya sebagai warga negara juga tanggal itu juga akan memilih wakil saya di senayan, saat ini aku sudah punya kreteria siapa yang akan mewakiliku, kreterianya tidak harus kaya, tidak harus cantik/tampat, tidak harus pandai dan berprestasi. yang menjadi kreteria yang aku ajukan adalah amanah, sudah banyak cerita mereka yang pandai jenderung menggunakan kepandaianya untuk menodai kepercayaan rakat, mereka yang berperstasi juga sama berapa banyak pemimping negeri ini yang berprestasi masuk pencara karena korupsi dan memanfaatkan jabatanya, hanya yang amanah yang akan saya pilih nanti, apakah pandai tidak perlu bagaiwakil rakyat? apakah prestasi tidak penting bagi wakil rakyat? jawabanya tentuy embel-embel prestasi, pandai itu semua penting bagai wakil rakyat, tapi yang menjadi no satu adalah amanah terhadap kepercayaan yang di bebankan oleh rakyat indonesia di pundak 500 orang putra bangasa terbaik pada tanggal 9 April 2014 

Menjelang pemili tahun ini 9 april 2014, banyak sekali orang mudah, tua  tokoh ataupun yang mengaku tokoh  bermunculan bak jamur di musim penghujan, semua mendadak menjadi dewa penolong silemah menjadi sinterklas, tapi akan terheran-heran ketika  saya melihat latar belakang yang jauh dari apa yang nampak saat ini, mereka para calon legislatif ini tidak sadar bahaya yang akan dihadapinya baik ketika terpilih ataupun tidak terpilih, untuk itu kesiapan untuk menang itu perlu juga di barengi dengan kesiapan untuk kalah, para caleg sudah tebar janji-janji manis ke pendukungnya, jika jadi maka saya akan memperjuangkan nasib kamu  kata-kata itu yang di umbar oleh semua caleg, mereka tidak sadar bahwa rekam jejak (latar belakang) kehidupan masih di ingat oleh masyarakat dan masa depan yang terhampar di depannya menjadi ajang pertarungan tersendiri.

Saya pribadi punya pengalaman ketika berhubungan dengan anggota legislatif, mereka dengan mudah berubah kepribadian, ya dalam politik tidak ada yang jelas hitam / putih yang ada adalah abu-abu mana yang menuntungkan baginya bagi golongnya, lebih jauh saya tidak ingin terjebak jalan pintas mendukung tanpa perhitungan logis maka mempelajari rekam jejak bagai saya mutlak dilakukan sebelum menentukan pilihan dan mumpung masih ada waktu  mari kita lihat rekam jejak mereka yang katanya akan mewakili kita di senayan. (bojonegroo, 11 Maret 2014)