Menatap bojonegoro kedepan yang lebih baik

DSCN1962Banyak hal terjadi yang saya alami di  minggu ini, minggu ini saya juga sempat bertemu dengan kawan-kawan lama yang telah beberrapa tahun tidak berjumpa,

Minggu ini juga saya berkesempatan untuk hadir dalam hari ulang tahun blogger bojonegoro yang ke 4 tidak terasa kawan-kawan istimewa saya komunitas blogger di bojonegoro ada (fauns, didik , edy, nova, fira, lely, dedex, fadly , muksin dan masih banyak  yg sampai lupa namanya  untuk kalian semua saya pribadi dan keluarga mengucapkan selamat atas ulang tahun ke 4 blogger bojonegoro semoga segala yang menjadi cita-cita kalian semua untuk mewujudkan “Dari Bojonegoro Untuk Indonesia” bisa tercapai dan cita-cita besar Bojonegoro untuk menjadi lumbung pangan dan lumbung energi bisa tercapai, di tangan pemimpin bojonegoro yang luar bisa menginpirasi kaum muda bojonegoro  Bupati Bojonegroo @KangyotoBJN,

Jika bicara tetang blogger Bojonegoro terus di sambung dengan  bupati Bojonegoro @kangyotoBJN, saya jadi ingat ketika kita bersama berkumpul di kebun blimbbing pada bulan sebtember 2013 lalu ketika itu baliau @kangyotoBJN mengungkapkan sesuatu yang menjadi dasar dari pembangunan keberlanjutan di Bojonegoro ini, dan ada satu yang saya ingat dari penjelasan Bupati adalah bahwa sudah menjadi cetak birunya Bojonegoro harus menjadi lumbung pangan dan energi di negeri ini, sesuai dengan namanya bojonegoro  yang bisa di utak-atik menjadi Bojone Negoro (istri negara Indonesia) artinya punya tanggung jawab besar terhadap bangsa Indonesia.

Secara geografis bojonegoro terletak di 112º25′ Bujur timur dan 112º09′ Lintang Selatan : 6º59′ dan 7º37′ dengan luas wilayah 235.000 ha, yang 44 persen adalah wilayah hutan yang di kuasai negara lewat perhutani, jadi dalam cetak birunya rakyat bojonegoro ini adalah miskin dan  hidup sulit, ini mengapa karena rakyat bojonegoro 80 persen adalah petani, sehingga tidak heran jika indek kemiskinan di Bojonegroo adalahpaling tingi di jawa timur, karena bojonegoro juga di hantui oleh problem alamiah yaitu banjer di musim hujan yang di sebabkan kiriman lewat bengawan solo yang membentang dari mulai dari kecamatan Margomulyo sampai kecamatan Bowerno, dan kekeringan di musim kemarau, oleh sebab itu berdasarkan pada tulisan sejarawan CLM Pander pemerintah kolonial belanda membuat kebijakan politik etic (the ethica policy) membangun waduk pacal di wilayah selatan bojonegoro yang menghabiskan dana 12.000 guilders, untuk dapat menolong kehidupan rakyat bojonegoro, sebetulnya pemerintah kolonial juga telah merencanakan membuat kembaran bengawan solo yang saat ini sering kita dengar dengan (solo valay)  tanah yang akan di pakai sudah ada yang membentang di wilayah selatan bojonegoro kurang lebih sepanjang benganwan solo yang melintasi wilayah ini.

Sejak tahun 2000 harapan baru muncul di daerah ini seiring dengan ditemukanya cadangan Migas terbesar di daratan, yaitu di Blok Cepu, saya sebagai warga Bojonegoro menyadari bahwa Migas itu adalah barang inklusif yang jadi milik negara yang di pergunakan untuk kemakmuran  237,424,363 jiwa (sensus tahun 2011) artinya Migas dari Bojonegoro akan di distribusikan ke seluruh wilayah Indonesia dengan mekanisme APBN, maka ketika mendengar gurauan Bupati Bojonegoro @kangyotoBJN pada sesama Bupati menanyakan – kamu gunakan untuk apa kiriman saya itu ? rata-rata di jawab dengan mesem (tertawa kecil) artinya apa bahwa saat ini Bojonegoro menjadi salah satu faktor pembangunan di Indonesia ini.

Diatas saya telah menyinggung tentang kepemiliki inklusip soal Migas, oleh negara, tapi sayang setelah migas itu di explorasi maka kepemilikannya berubah ada yang menjadi milik operator migas dalam hal ini ExxonMobil/MCL untuk blok cepu pada titik inilah perlunya kebijakan yang berpihak pada rakyat, karena selama ini terjadi penyandraan-penyandraan hak-hak rakyat yang terkadang terabaikan oleh berbagai pihak mulai dari pejabat birokrat, politisi, belum lagai adanya ancaman kerusakan alam, dan konflik sosial yang timbul  dan menjadi dampak ikutan dari semua proses yang berkaitan dengan explorasi migas ini.

Saat ini di blok cepu ada kurang lebih 7000 lebih  orang pekerja lokal yang terlibat di mega proyek ini, untuk dapat mengelola sember daya 7000  orang tidak lah mudah, saat ini mereka masih bekerja di proyek migas blok cepu, karena ini proyek maka akan ada akhirnya, dan ini ledakan 7000 orang exs tenaga proyek migas ini akan menjadi bahaya latin tersendiri bagi pembangunan kesejahteraan rakyat bojonegoro dan suatu saat akan meledak jika tidak dikelola dengan benar. oleh karena itu kebijakan yang pro rakyat, pro kesejahteraan dan pro lingkungan harus dijadikan pijakan. jangan sampai kebijakn yang di keluarkan tidak bisa mengentaskan penganguran, kemiskinan atau kebijakan yang di keluarkan itu menjadi problem sosial sendiri, tentunya juga  operator Migas dalam hal ini MCL juga wajib meminimalkan dampak dari ledakan pengaguran pasca pembangunan, tentunya itu sudah di rencanakan dalam Pod yang disetujui oleh pemerintah.

Dari berbagai kebijakan yang diperlukan dalam menjawab tantanga diatas, dapat di peroleh gambaran dari artikel yang di tulis oleg Bupati Bojonegoro @kangyotoBJN  “EKSPLOITASI MIGAS UNTUK KESEJAHTERAAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN BOJONEGORO” disini saya kutip bahwa ada beberapa indikator yang dijadikan dasar dalam mengelola kebijakan daerah yang dalam pengematan saya juga ada di 3 pilar program CSR  MCL :  Pertama, terwujudnya sustainable development melalui 5 (lima) pilar penting, yaitu pilar ekonomi, pilar lingkungan hidup, pilar pembentukan modal sosial (mencakup partisipasi dan keadilan, serta menciptakan budaya unggul dan manusia unggul), pilar pemantapan budgeting non oil / gas, serta pilar terwujudnya clean and good governance. Kedua, secara sadar ingin mewujudkan indeks kebahagiaan, yang diwujudkan dalam kebahagiaan personal (intelectual and spiritual happiness) dan kebahagiaan sosial melalui prinsip take and give (participation and democracy) ; Ketiga, menemukan jalan keluar dari middle income trap, baik melalui pemberian jaminan sosial (pendidikan, kesehatan dan pangan) maupun melalui pembangunan infrastruktur dan energi, investasi (modal capital) jangka panjang, inovasi serta pengembangan teknologi,

Dari ketiga semangat itu saya berpendapat bahwa  ketiga-tiganya harus berjalan seiring itu jika ingin melihat Bojonegoro kedepan yang lebih baik, dan bagaimana rakyat Bojonegoro bisa memastikan bahwa seluruh kebijakan pemerinta daerah bisa di jalankan dengan baik dan benar. ini saya kira yangmenjadi sentral dari isu yang perlu dikelolal dengan baik untuk memberi manfaat seluas luasnya bagi  Bojonegoro khusunya dan rakyat Indoneisa  pada umumnya. (Bojonegoro  9 maret 2014)