MEMPELAJARI KEBIJAKAN Kepemimpinan BUPATI BOJONEGORO

MEMPELAJARI KEBIJAKAN KEPEMIMPINAN BUPATI BOJONEGORO

KANGYOTO

Oleh : Mohammad Muat, S.Fil / @abahalis

clip_image002Dalam mengikuti dan mengkaji berbagai kebijakan bupati bojonogoro suyoto, keyaknya kita perlu atau bisa dikatakan wajib melihat isi dari bukunya CLM Panders seorang sejarawan asal Australia yang berjudul Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North East Java Indonesia. Yang dalam versi Indonesia diterjemahkan oleh Albard Khan, buku itu berjudul Bojonegoro 1900-1942 Kisah Kemiskinan Endemik Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur.

Kembali soal kebijakan Bupati Suyoto dan hubunganya dengan bukunya nya CLM Panders “Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North East Java Indonesia”. Saya melihat bahwa buku itu begitu dijiwai secara sempurna oleh Bupati Bojonegoro Suyoto ini, sejak awal (lupa waktunya) tapi saat itu aku dalam perjalanan dari Lamongan ke Bojonegoro, aku mendengar lewat radio Bupati Bojonegoro menceritakan tentang bagaimana sejarah Bojonegoro ini sejak jaman penjajahan Belanda. beliau mengutip dari bukunya Panders dan saya secara pribadi mengamati dan mencatat beberapa kali mendengar pidato Bupati Soyoto ini selalu merujuk pada bukunya Panders itu, pada waktu sambuatan beliau pada acara buka bersama yang di adakan oleh ADEMOS, pada waktu acara sarasehan untuk Bojonegoro yang di adakan oeh IMAGO di Pendopo Malowopati beliau juga merujuk pada buku yang sama, dan beberapa kali pada waktu dialog jumat, bahkah waktu kegiatan “Jongok” bersama di kebun Blimbing Kalitidu minggu lalu yang di hadiri oleh Wamen ESDM dan Sutradara terkenal Garin Nugroho, pun di kutip dari sumber yang sama, kemudian petuah yang sama juga di sampaikan ketika acara jamuan makan malam tanggal 5 Januari 2014 bersama para pengusaha yang di hadiri oleh pengusaha-pengusaha di bojonegoro, sekaligus para operator migas yang sedang ada proyek di bojonegoro sekaligus dari SKK Migas, hadir pula saat itu seluruh camat dan kepala desa sekabupaten Bojonegoro.

Bupati suyoto dengan begitu sempurna dan tanpa perubahan redaksi dari awal saya mendengar beliau menyebut buku nya CLM panders ini. Dengan begitu sempurnanya beliau mengutip bahwa pada periode tahun 1900 sampai 1920 dilukiskan sebagai periode kemiskinan yang sangat parah, dari 50 orang yang masuk rumah sakit, separuhnya meninggal karena kekurangan Gizi, tiga jam gotong royong kerja bakti 1,30 menit banyak yang pingsan. Begitu sempurnya beliau mengulang-ulang apa yang di tulis dalam bukunya pander itu, sampai saya pada kesimpulan bahwa buku itu adalah salah satu yang menjadi pegangan dari kebijakan-kebijakan yang beliau akan di ambil dalam rangka memakmurkan rakyat bojonegoro.

Dalam menelaah dan mengamati kepemimpinan dalam pengambilan kebijakan bupati Bojonegoro lebih mengarah bagaimana memperbaiki mental pejabatnya, ini juga yang mengilhami beberapa lagu untuk kampaye pada pencalonanya pemilihan peride pertama karena pada waktu itu belum jadi bupati maka secara sadar mengunakan kata-kata “APBD ne gede tapi rakyate masih koyok ngene” itu juga saya diakui mampu membentuk opini tersendiri dan berpengaruh yang cukup kuat di benak para pemilihnya saat itu. Dan itu disadari betul ketika terbukti dan terpilih sebagai bupati periode pertamanya maka di gelarlah agenda rutin pertemuan setiap jumat di pendopo malowopati untuk menerima keluhan masyarakat yang berbagai macam itu sekaligus bagaimaan mencarikan solusi terbaik buat mereka yang butuh bantuan segera, selayaknya seorang pemimpin yang begitu sadar akan ruwetnya proses birokrasi pemerintahan, jika pakai setandar birokrasi orang yang kesulitan memperoleh pengobatan akan keburu meinggal sebelum diobati. Ini di sadari betul oleh beliau.

Bupati suyoto begitu menyadari bahwa bentuk kemiskinan pada zaman kolonial yang dialami rakyat Bojonegoro seperti dalam catatan Penders itu tidak jauh berbeda dengan terjadi saat ini. Beruntung kebijakan Belanda saat itu masih ada yang berpihak kepada rakyat. Yakni, dengan membangun waduk Pacal. maka pertanian bojonegoro pun hingga kini terselamatkan. Karena itu, dibutuhkan revolusi kebudayaan untuk mengangkat derajat rakyat Bojonegoro. Kebudayaan urusannya bukan fisik tapi mental. Bagaimana mengubah mental pejabat minta dilayani menjadi pelayan rakyat Bagaimana mengubah mental rakyat yang selalu meminta menjadi mental pemberi. peningkatan kesejahteraan masih belum seberapa hasilnya, tapi sudah mulai tampak ada perbaikan. Dari nomor urut 3 termiskin di Jawa Timur, kini beranjak membaik menjadi nomor 10. Infrastruktur juga mulai membaik. Meski masih ada keluhan disana-sini dan belum semua desa dan dusun terjamah, tapi sudah mulai dirasakan warga di hampir semua kecamatan.

Tapi sanyan buku ini saat ini sulit untuk di cari di toko-toko buku di bojonegoro. ADA YANG BISA BANTU CARIKAN BUKU INI ?