Cloud Computing menjadi sebuah solusi Teknologi Komonikasi Masa Depan

CHIP.co.id – Cloud Computing menjadi sebuah solusi layanan yang saat ini sudah banyak digunakan oleh sejumlah orang atau perusahaan. Apa itu Cloud Computing? Bersama CloudIndonesiA, CHIP memaparkannya dalam artikel berikut ini.

Cloud Computing? Banyak dari Anda yang sudah sering mendengar­ isitilah tersebut. Jika belum, Anda mungkin pernah dengar istilah dalam bahasa Indonesia-nya, “Komputasi Awan”. Ada banyak tulisan untuk menjelaskan Cloud Computing, namun banyak dari penjelasan tersebut yang bersifat teknis sehingga sebagian orang sulit untuk memahami Cloud Computing.

Untuk memudahkan pemahaman mengenai Cloud Computing, analogi yang bisa digunakan Anda lihat adalah layanan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Untuk bisa menikmati listrik di rumah, Anda tidak perlu mendirikan infrastruktur berupa pembangkit listrik sendiri bukan? Yang perlu Anda lakukan adalah mendaftar ke PLN untuk berlangganan.

Selanjutnya, untuk memakai layanan listrik tersebut, Anda selaku pelanggan tidak perlu pusing untuk memikirkan cara PLN memenuhi kebutuhan listrik di rumah Anda. Yang terpenting, lis­trik menyala untuk kebutuhan sehari-hari dan setiap bulannya Anda harus membayar sesuai pemakaian. Untuk itu, pelanggan tidak perlu mengetahui secara detail cara PLN melakukan perawatan infrastruktur dan sejumlah alat-alat pendukung lainnya.

Nah, analogi dari layanan listrik yang diberikan oleh PLN adalah gambaran dari layanan Cloud Computing. NIST (National Institute of Standards and Technology – http://www.nist.gov) yang merupakan salah satu bagian dari Departemen Perdagangan di Amerika Serikat mendefinisikan Cloud Computing sebagai model yang memungkinkan kenyamanan, akses jaringan on-demand untuk memanfaatkan bersama suatu sumber daya komputasi yang terkonfigurasi (jaringan, server, penyimpanan, aplikasi, dan layanan), dan dapat secara cepat diberikan dengan upaya manajemen yang minimal atau interaksi penyedia layanan. NIST juga menjelaskan bahwa ada lima karakteristik sehingga sebuah sistem  bisa disebut sebagai Cloud Computing, yaitu Resource Pooling, Broad Network Access, Measured Service, Rapid Elasticity, dan Self Service

Resource Pooling: Sumber daya komputasi (storage, CPU, memory, network bandwidth, dan sebagainya) yang dikumpulkan oleh penyedia layanan (service provider) untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (service consumers) dengan model multi-tenant. Sumber daya komputasi ini bisa berupa sumber daya fisik ataupun virtual dan juga bisa dipakai secara dinamis oleh para pelanggan untuk mencukupi kebutuhannya.

Broad Network Access: Kapabilitas layanan dari cloud provider tersedia lewat jaringan dan bisa diakses oleh berbagai jenis perangkat, seperti smartphone, tablet, laptop, workstation, dan sebagainya.

Measured Service: Tersedia layanan untuk optimalisasi dan memonitor layanan secara otomatis. Dengan monitoring sistem, Anda bisa melihat jumlah resources komputasi yang telah dipakai, seperti bandwidth , storage, processing, jumlah pengguna aktif, dan sebagainya. Layanan monitoring ini merupakan bentuk transparansi antara penyedia layanan dengan konsumen.

Rapid Elasticity: Kapabilitas layanan yang diberikan oleh provider bisa digunakan oleh konsumen secara dinamis berdasarkan kebutuhan. Konsumen dapat dengan mudah meminta kapasitas layanan untuk dinaikkan atau diturunkan. Bagi konsumen, kapasitas layanan yang disediakan ini seolah tidak terbatas dan konsumen dapat memilih kapasitas yang diinginkan setiap saat.

Self Service: Konsumen bisa mengonfigurasi secara mandiri layanan yang ingin dipakai melalui sebuah sistem tanpa interaksi dengan pihak penyedia layanan. Untuk itu, konfigurasi layanan yang dipilih harus tersedia saat itu juga secara otomatis.
Untuk itulah, kelima karakteristik Cloud Computing yang disebutkan oleh NIST harus ada di dalam penyedia layanan (service provider) jika ingin sistem yang dikembangkannya disebut sebagai layanan Cloud Computing.
Layanan Cloud Computing
Setelah dijabarkan mengenai lima karakteristik yang terdapat di dalam sistem layanan Cloud Computing, NIST juga membagi jenis layanan Cloud Computing menjadi tiga. Ketiga layanan Cloud Computing tersebut adalah Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS), dan Infrastructure as a Service (IaaS).

Software as a Service (SaaS): Melalui layanan jenis ini, pengguna dapat menggunakan software yang telah disediakan oleh penyedia layanan (service provider). Oleh karena itu, pelanggan hanya perlu mengetahui bahwa software yang digunakan bisa berjalan dengan baik dan optimal. Contoh layanan SaaS adalah Office 365, GMail, Yahoo! Mail, Facebook, Twitter, dan sebagainya.
Keuntungan jika menggunakan layanan ini adalah Anda tidak perlu membeli lisensi software lagi. Untuk itu, Anda bisa berlangganan ke penyedia layanan dan membayarnya berdasarkan pada pemakaian.

Platform as a Service (PaaS): Layanan yang memungkinkan pengguna bisa menyewa “rumah” berikut lingkungannya (sistem operasi, network, database engine, framework, dan sebagainya) untuk menjalankan aplikasi yang telah dibuat. Oleh karena itu, pelanggan tidak perlu repot untuk menyiapkan “rumah” dan melakukan pemeliharaan yang sudah menjadi tanggung jawab dari penyedia layanan. Contoh layanan PaaS adalah Heroku, Amazon Web Service, Windows Azure, dan GoogleApp Engine

Keuntungan dari PaaS, pengembang atau pengguna dapat fokus pada aplikasi yang sedang dikembangkan. Dengan kata lain, pengguna tidak perlu repot memikirkan “rumah” untuk aplikasi yang dikembangkan.

Infrastructure as a Service (IaaS): Layanan Cloud Computing yang memungkinkan pengguna menyewa infrastruktur IT penyedia layanan (unit komputasi, storage, memori, network, dan sebagainya). Untuk lebih mudahnya, layanan IaaS ini dianalogikan seperti Anda menyewa komputer yang masih kosong. Untuk itu, Anda sendiri yang harus mengonfigurasi komputer tersebut sesuai de-ngan kebutuhan. Contoh layanan IaaS adalah Amazon EC2, Rackspace Cloud, Windows Azure, dan sebagainya.

Keuntungan dari IaaS adalah Anda dapat dengan leluasa me­ngon­figurasi komputer virtual yang disewa. Sebagai contoh, saat komputer virtual tersebut mengalami kelebihan beban, Anda bisa menambahkan CPU, RAM, atau Storage dengan segera.
Deployment Model Cloud Computing

Menurut NIST, ada empat deployment model Cloud Computing, yaitu Public Cloud, Private Cloud, Hybrid Cloud, dan Community Cloud.

Public Cloud: Layanan Cloud Computing yang disediakan untuk masyarakat umum. Pengguna bisa langsung mendaftar ataupun memakai layanan yang ada.

Private Cloud: Layanan ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan internal sebuah perusahaan. Biasanya, departemen TI berperan sebagai penyedia layanan dan departemen lain menjadi pengguna. Di sini,  penyedia layanan harus bertanggung jawab sesuai de-ngan standar kualitas layanan yang telah ditentukan, baik infrastruktur, platform, maupun aplikasi yang ada.

Hybrid Cloud: Gabungan dari Public Cloud dan Private Cloud yang diimplementasikan oleh suatu perusahaan. Dalam Hybrid Cloud ini, Anda bisa memilih proses bisnis yang bisa dipindahkan ke Public Cloud dan proses bisnis yang harus tetap berjalan di Private Cloud.

Community Cloud: Layanan yang dibangun eksklusif untuk komunitas tertentu dan penggunanya berasal dari organisasi yang mempunyai perhatian yang sama, misalnya standar keamanan, aturan, compliance, dan sebagainya. Community Cloud bisa dimiliki, dipelihara, dan dioperasikan oleh satu pihak atau lebih dari komunitas tersebut, pihak ketiga, ataupun kombinasi dari keduanya.

**Alex Budiyanto

Founder CloudIndonesiA