Gallery

PELAJARAN BERHARGA DARI BLOCK CEPU

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=298169

Pelajaran Berharga Blok Cepu untuk Esemka


Selasa, 28 Februari 2012

Tahun 2004, dua anak muda pintar, intelektual, menggelar sebuah konferensi pers. Dalam acara itu mereka menegaskan, sulit bagi Pertamina untuk bisa mengelola Blok Cepu yang kontraknya akan segera habis beberapa tahun ke depan. Alasan mereka, Pertamina memiliki keterbatasan teknologi, modal, sehingga sulit untuk bisa menambah produksi nasional yang dibutuhkan secara cepat.

Dua anak muda tersebut mengatakan, kalau kontrak diperpanjang oleh Exxon Mobil, maka tahun 2010 produksi maksimal akan mencapai 170 barel per hari (bph). Namun, kalau Pertamina yang mengelola, maka produksi baru akan terjadi tahun 2013.
Direksi Pertamina dan sejumlah kalangan, pada waktu itu secara tegas mengatakan, Pertamina mampu dan memiliki modal untuk mengelola Blok Cepu. Pertamina juga memiliki pengalaman panjang di sektor hulu dalam mengelola blok-blok lain. Bahkan, anak bawang, Petronas secara mentah-mentah mengadopsi teknologi dan sistem yang dipakai oleh Pertamina. Tak pelak, karena Pemerintah Malaysia sangat melindungi perusahaan nasionalnya, Petronas sekarang sudah menjadi perusahaan besar dan kiprahnya sudah sampai Asia hingga Afrika.
Singkat kata, impian anak muda yang “membela” perusahaan asing itu, terwujud. Exxon Mobil akhirnya berhasil memperoleh perpanjangan kontrak Blok Cepu yang memiliki cadangan minyak sangat besar, yaitu 2.600 juta barel dan gas sebesar 11 triliun kaki kubik. Hidangan di depan mata yang bisa mendongkrak Pertamina sebagai perusahaan ‘world class company’, pupus. Pertamina kembali menjadi perusahaan yang hanya mengelola blok-blok tua yang membuat produksi nasional tidak terdongkrak.
Sementara, janji untuk mengangkat produksi minyak nasional dengan perpanjangan kontrak Blok Cepu oleh Exxon, hingga tahun 2012, tidak terwujud. Produksi Blok Cepu tidak lebih dari 20.000 barel saja per hari. Walaupun Pertamina tetap diikutkan dalam pengelolaan Blok Cepu, namun kendali utama tetap berada di bawah Exxon.
Jelas, kesempatan pertama untuk mengangkat nama bangsa lewat Blok Cepu, tidak terwujud. Sekarang, ada kesempatan kedua dari bangsa ini untuk bisa menunjukkan bahwa negara memiliki putra-putri terbaik yang mampu memperkuat devisa negara.
SDM unggul lewat terciptanya mobil Kiat Esemka adalah kesempatan emas bagi bangsa ini untuk bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di kawasan Asia. Satu kata kunci, inginkah kita menjadi bangsa yang terhormat, memiliki harga diri, dan tidak hanya sekadar menjadi bangsa makelar. Jangan ada pihak yang merasa kehilangan ‘fee’ dengan semakin dekatnya produksi massal Kiat Esemka, jangan ada jegalan-jegalan terhadap niat uji emisi yang kini tengah berjalan. Jangan ada lagi anak muda seperti yang pernah mereka lakukan pada Pertamina.
Terbayangkah oleh kita, puluhan triliun rupiah yang akan masuk ke devisa negara, bila Kiat Esemka berproduksi massal dan kemudian di ekspor. Tidak malukah kita dengan berkeliarannya mobil-mobil Jepang, Korea, Malaysia, di jalan raya kita. Karena itu bangkitkan kebanggaan dan gunakan Kiat Esemka yang harganya hanya Rp 95 juta. Selanjutnya, jangan lagi beli mobil selain Kiat Esemka. Ini demi kehormatan bangsa Indonesia. (Sabpri Piliang)